Budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) bagi Kelangsungan Usaha

Subscribe Youtube Channel!

budaya keselamatan dan kesehatan kerja k3 bagi kelangsungan usaha

budaya keselamatan dan kesehatan kerja k3 bagi kelangsungan usaha – Berlangsungnya kecelakaan kerja tentunya menjadikan masalah yang besar bagi kelangsungan suatu usaha. Kerugian yang diderita bukan hanya berupa kerugian materi yang lumayan besar akan tetapi lebih dari itu ialah munculnya korban jiwa yang tidak sedikit jumlahnya. Kehilangan sdm ini adalah kerugian yang begitu besar sebab manusia ialah satu-satunya sumber daya yang tidak bisa digantikan oleh teknologi apa pun.

Di Indonesia menurut data PT. Jamsostek (Persero) dalam periode 2002-2005 berlangsung lebih dari 300 ribu kecelakaan kerja, 5000 kematian, 500 cacat tetap serta konpensasi lebih dari Rp. 550 milyar. Konpensasi ini ialah sebagian dari kerugian langsung serta 7.5 juta pekerja sektor resmi yang aktif menjadi peserta Jamsostek. Diprediksikan kerugian tidak langsung dari seluruh sektor resmi lebih dari Rp. 2 triliun, di mana sebagian besar adalah kerugian dunia usaha. (DK3N, 2007).

Keselamatan serta Kesehatan Kerja (K3)

Secara keilmuan K3, didefinisikan menjadi ilmu serta penerapan teknologi mengenai pencegahan kecelakaan kerja serta penyakit karena kerja. Dari segi hukum K3 adalah kumpulan ketentuan perundang-undangan yang mengatur mengenai perlindungan keselamatan serta kesehatan kerja. Melalui ketentuan yang jelas serta sanksi yang tegas, perlindungan K3 bisa ditegakkan, karena itu diperlukan ketentuan perundang-undangan yang mengatur mengenai K3. Bahkan di tingkat internasionalpun sudah disetujui adanya konvensi-konvensi yang mengatur mengenai K3 secara universal sama dengan perkembangan ilmu dan pengetahuan serta teknologi, baik yang dikeluarkan oleh organisasi dunia seperti ILO, WHO, ataupun tingkat regional.

Dilihat dari segi ekonomis, dengan mengaplikasikan K3, maka tingkat kecelakaan akan menurun, hingga kompensasi pada kecelakaan pun menurun, serta biaya tenaga kerja bisa berkurang. Sejalan dengan itu, K3 yang efisien akan meningkatkan produktivitas kerja hingga bisa meningkatkan hasil produksi. Perihal ini pada gilirannya lalu bisa mendorong semua tempat kerja/industri ataupun beberapa tempat umum merasakan pentingnya serta mempunyai budaya K3 untuk diaplikasikan disetiap tempat serta waktu, hingga K3 jadi salah satu budaya industrial.

K3 sangatlah penting untuk mewujudkan kualitas hidup serta kemajuan penduduk sesuai dengan arah hidup tiap-tiap insan untuk memperoleh kebahagiaan hidup jasmaniah serta rohaniah. K3 yang berjalan baik bisa mendorong serta meningkatkan peningkatan produksi serta produktivitas, yang pada gilirannya akan meningkatkan daya saing. Dengan begitu untuk mewujudkan K3 diperusahaan perlu dikerjakan dengan rencana serta pertimbangan yang tepat, serta salah satu kunci keberhasilannya terdapat pada peran serta pekerja sendiri baik menjadi subyek ataupun obyek perlindungan dimaksud.

Prinsip Aplikasi K3

Langkah dalam pendekatan modern tentang pengendalian K3 dimulai dengan diperhatikannya serta diikutkannya K3 menjadi bagian dari manajemen perusahaan.
Dengan memerhatikan banyaknya resiko yang didapat perusahaan, mulai diterapkan manajemen resiko, menjadi inti serta cikal akan SMK3. Penerapan ini telah mulai mengaplikasikan skema preventif pada kecelakaan kerja yang akan berlangsung. Manajemen resiko menuntut bukan hanya keterkaitan pihak manajemen tapi juga prinsip manajemen serta seluruh pihak yang berkaitan. Pada konsep ini, bahaya menjadi sumber kecelakaan kerja mesti teridentifikasi, lalu diadakan perhitungan serta prioritas pada resiko dari bahaya itu serta terakhir ialah pengontrolan resiko. Di tahap pengontrolan resiko, peranan manajemen sangatlah penting sebab pengontrolan resiko memerlukan ketersediaan semua sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan, sebab pihak manajemen yang mampu memenuhi ketersediaan ini.

Semua konsep-konsep penting itu makin menyadarkan akan pentingnya kebutuhan pengendalian K3 berbentuk manajemen yang sistematis serta mendasar agar dapat terintegrasi dengan manajemen perusahaan yang lainnya. Integrasi ini diawali dengan kebijaksanaan dari perusahaan untuk mengelola K3 mengaplikasikan suatu Skema Manajemen Keselamatan serta Kesehatan Kerja (SMK3). Pengendalian ini mempunyai skema “Total Loss Control” yakni sebuah kebijaksanaan untuk menghindari kerugian bagi perusahaan-property, personel di perusahaan serta lingkungan melalui aplikasi skema manajemen K3 yang mengintegrasikan sdm, material, perlengkapan, proses, bahan, sarana serta lingkungan dengan skema aplikasi prinsip manajemen yakni Planning, Do, Check and Improvement (PDCI).

Strategi Aplikasi K3

Tiap-tiap dunia usaha selayaknya mempunyai taktik yang bisa memperkecil bahkan juga menghilangkan kejadian kecelakaan serta penyakit karena kerja sesuai dengan kondisi tempat kerjanya. Taktik yang perlu diaplikasikan mencakup :

  • Manajemen perlu mengambil keputusan bentuk perlindungan bagi karyawan dalam menghadapi peristiwa kecelakaan kerja.
  • Manajemen bisa memastikan apa ketentuan mengenai K3 berbentuk resmi atau mungkin informal.
  • Manajemen butuh pro aktif serta reaktif dalam pengembangan mekanisme serta gagasan mengenai K3 karyawan.
  • Pihak manajemen bisa memakai tingkat aplikasi K3 yang maksimal sebagai aspek promosi perusahaan kekhalayak luas.
  • Salah satu kebijaksanaan K3 Nasional 2007-2010 ialah pemberdayaan pengusaha, tenaga kerja serta pemerintah agar dapat mengaplikasikan serta meningkatan budaya K3.

Siapkah kita melakukan program itu serta jadi pelopor dalam aplikasi K3 dalam tempat kerja kita masing-masing