Dasar Hukum Penerapan Keselamatan serta Kesehatan Kerja

Subscribe Youtube Channel!

Dasar Hukum Penerapan Keselamatan serta Kesehatan Kerja

dasar hukum penerapan keselamatan serta kesehatan kerja – Hukum–hukum keselamatan serta kesehatan kerja terdahulu ditunjukan untuk melakukan perbaikan kekeliruan yang dalamnya cenderung pesektif yakni dalamnya cenderung menetapkan langkah memperbaiki kekeliruan serta batasi cakupan pekejaan. Hukum keselamatan serta kesehatan keja muncul membuat perlindungan pekerja dari bahaya yang diakibatkan oleh perubahan tehnologi (Ridley, 2006:2).

Dasar hukum yang berkaitan dengan penerapan skema manajemen keselamatan serta kesehatan kerja di Indonesia (Syafi’i, 2008:46)antar lainnya :

a) Undang-undang No. 1 tahun 1970 mengenai keselamatan serta kesehatan kerja.

b) Undang-undang No. 23 tahun 1992 mengenai kesehatan.

c) Undang–undang No. 13 tahun 2003 mengenai ketenaga kejaan.

d) Ketetapan Menteri Tenaga Kerja RI Nomer : Kep-51/Men/1999 Mengenai Nilai Ujung Batas Aspek Fisika dalam tempat kerja.

e) Ketetapan Menteri Tenaga kerja RI Nomer : Kep-187/Men/1999 Mengenai Pengendalian Bahan Kimia Beresiko dalam tempat kerja.

f) Ketentuan Pemerintah No. 27 tahun 1999 mengenai Analisa Tentang Efek Lingkungan.

g) Surat Edaran Dirjen Binawas No. SE.05/BW/1997 mengenai Pemakaian Alat Pelindung Diri.

h) Ketentuan Menteri Tenaga Kerja No : PER. 05/MEN/1996 mengenai Skema Manajemen Keselamatan serta Kesehatan Keja.

i) Ketetapan Presiden No. 22 tahun 1993 mengenai Penyakit yang Muncul Karena Jalinan Kerja.

j) Ketetapan Menteri Kesehatan No. 876/Menkes/SK/IX/VIII/2001 mengenai Dasar Tehnis Analisa Efek Lingkungan.

k) Ketetapan Menteri Kesehatan No. 1217/Menkes/SK/IX/2001 mengenai Dasar Perlakuan Efek Radiasi.

l) Ketetapan Menteri Kesehatan No. 315/Menkes/SK/III/2003 mengenai Komite Keselamatan serta Kesehatan Kerja Bidang Kesehatan.

Aspek – Aspek Keselamatan serta Kesehatan Kerja

Manajemen keselamtan serta kesehatan kerja memerlukan standarisasi dalam pengendalian serta implementasi dari keselamatan serta kesehatan kerja. Lestari serta Triyulianti (2007) membagi aspek – aspek keselamtan serta kesehatan keja jadi lima aspek. Aspek itu diantaranya :

1) Pelatihan keselamatan.

2) Publikasi keselamatan.

3) Kontrol lingkungan kerja.

4) Pengawasan serta disiplin.

5) Penambahan kesadaran K3.

Ketentuan menteri tenaga kerja No. PER.05/MEN/1996 mengenai skema manajemen keselamatan serta kesehatan kerja memberi tanda mengenai aspek – aspek yang perlu ditaati oleh tiap-tiap perusahaan dalam pengendalian keselamatan serta kesehatan kerja, diantarana ialah tiap-tiap perusahaan yang memperkerjakan seratus orang dengan tingkat bahaya jadi harus melakukan manajemen K3, rencana tempat kerja, prinsip serta kebijaksanaan keselamtan serta kesehatan keja, rencana identifikasi bahaya, penilaian serta pengendalian kemungkinan, penerapan pelatihan keselamatan, komunikasi, audit manajemen keselamatan serta kesehatan kerja serta laporan.

Sesaat dalam UU No. 1 tahun 1970 mengenai keselamtan kerja menuturkan mengenai prasyarat – prasyarat keselamtan kerja salah satunya ialah menahan serta mengendalikantimbulnya penyakit karena kerja baik psikologis ataupun fisik, keracunan, infeksi serta penyebaran, memberikan alat pertolongan diri pada pekerja, menyenggarakan penyegaran udara yang cukuplah, mendapatkan kecocokan pada tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, langkah serta proses kerjanya.

Dalam lingkungan Internasional standard keselamatan serta kesehatan kerja dipastikan oleh perkumpulan instansi standarisasi beberapa negara yang terhimpun jadi Occuptional Health and Safety Assesment Series18001 : 2007 (OHSAS 18001 : 2007). Dalam OHSAS 18001 : 2007 memberi enam persyaratan manajemen keselamatan serta kesehatan kerja yang harus dikerjakan perusahaan dengan standard Internasional. Ke enam persyaratan itu diantaranya :

1. Kriteria umum.

2. Kebijaksanaan keselamatan serta kesehatan kerja.

3. Rencana keselamtan serta kesehatan kerja

  • Identifikasi bahaya, penilaian serta penetapan kemungkinan.
  • Hukum serta persyarat lainnya.
  • Program serta tujuan.

4. Aplikasi serta operasional

  • Sumber daya, peranan, tanggung jawab, akuntabilitas serta otoritas.
  • Kompetensi, pelatihan serta kesadaran
  • Dokumentasi.

d) Pengawasan dokumentasi.

e) Pengawasan operasional.

f) Kesiapsiagaan serta responsif darurat.

5. Pengawasan

  • Pemantauan serta pengukuran kapasitas.
  • Pelajari kepatuhan.
  • Penyelidikkan insiden, tindakan koretif serta tindakan penyegahan.
  • Pengawasan catatan.
  • Internal audit.

6. Tinjauan manajemen.

Tujuan dari Keselamatan serta Kesehatan Kerja

Tujuan yang diinginkan perusahaan dalam keselamatan serta kesehatan kerja salah satunya ialah menahan terjadinya penyakit karena kerja, tingkatkan derajat kesehatan kerja dengan lakukan promo kesehatan, mengawasi status kesehatan serta kesehatan pekerja pada keadaan yang optimal, menciptakan skema kerja yang aman dari mulai input proses sampai output, menahan terjadinya kerugian (loss) baik moril ataupun materil karena terjadinya accident atau incident.

Lakukan pengndalian pada kemungkinan yang ada di tempat kerja menciptakan lingkungan kerja yang aman serta sehat dari bahaya health hazard, menciptakan interaksi semua sub di perusahaan dalam hubungan yang sehat serta tidak berefek pada penurunan deajat kesehatan atau terdapatnya ketidaknyamanan.

Menahan munculnya Cummulative Trauma Disorders yang disebabkan oleh tempat kerja yang tidak baik, menahan kerugian karena munculnya cidera ataupun kekeliruan sebab ketidakseasian pada pekerja dengan tugasnya serta otomatis tingkatkan produktivitas kerja. Menurut Mangkunegara (2001), tujuan keselamatan serta kesehtan kerja ialah seperti berikut :

a) Tiap-tiap karyawan mendapatkan agunan kesehatan serta keselamtan kerja baik dengan fisik, sosial serta psikologis.

b) Tiap-tiap peralatan serta perlengkapan kerja dipakai sebagus – sebaiknya serta seefektif mungkin.

c) Semua hasil produksi dijaga keamannya.

d) Terdapatnya agunan atas pemeliharaan serta penambahan kesehatan gizi pekerja.

e) Tingkatkan kegairahan, kecocokan kerja serta partivasi kerja.

f) Terlepas dari masalah kesehatan yang dikarenakan oleh lingkungan atau keadaan kerja.

g) Tiap-tiap karyawan merasakan aman serta terlindung dalam kerja.

Tujuan serta tujuan perusahaan melakukan K3 menurut Silalahi (1995:125) diantaranya :

a) Pemeliharaan keadaan kerja yang aman serta sehat.

b) Patuh azas dengan tiap-tiap mekanisme operasional yang didesain untuk menahan luka atau penyakit.

c) Patuhi undang – undang pokok K3.

Tujuan keselamatan serta kesehatan kerja menurut Kurniawati (2008:1) antar lainnya :

a) Pelihara serta tingkatkan derajat kesehatan penduduk pekerja disemua lapangan pekerjaan ketingkat yang setinggi – tingginya baik fisik, mental ataupun kesehatan sosial.

b) Menahan munculnya masalah kesehatan penduduk pekerja yang disebabkan oleh tindakan atau situasi keadaan kerjanya.

c) Memberi perlindungan buat pekerja dalam tugasnya dari peluang bahaya yang dikarenakan oleh aspek – aspek yang membahaykan kesehatan.

d) Menepatkan serta pelihara pekerja di satu lingkungan pekerjaan yang sama dengan potensi fisik pekerjanya.

Skema Manajemen Keselamatan serta Kesehatan Kerja

Pendekatan skema pada manajemen K3 diawali dengan pertimbangan tujuan keselamatan, tehnik serta perlengkapan yang dipakai, proses produk serta perancanaan tempat kerja (Mangkunegara, 2001). Skema manajemen K3 ialah sisi skema manajemen dengan keseluruahan yang mencakup susunan organisasi, pekerjaan rencana, tanggung jawab, penerapan, mekanisme, proses serta sumber daya yang diperlukan buat peningkatan, pengkajian serta pemeliharaan kebijaksanaan keselamatan serta kesehatan kerja dalam rencana pengendalian kemungkinan yang terkait dengan pekerjaan kerja untuk tecapainya lingkungan kerja yang aman, efektif serta produktif (Santoso, 2004).

Tujuan skema manajemen K3 ialah menciptakan satu skema keselamatan serta kesehatan kerja dengan menyertakan unsur manajemen, tenaga kerja, keadaan serta lingkungan kerja yang terintrigasi dalam menahan serta kurangi kecelakaan serta penyakit karena kerja dan terciptanya tenaga kerja yang sehat, aman, efektif serta produktif (Sugeng, 2005).

Peranan Keselamatan serta Kesehatan Kerja dalam Perusahaan Keselamatan serta kesehatan kerja berperan dalam usaha dalam perlindungan kesehatan pekerja dalam usaha – usaha promo kesehatan, pemantauan serta survey kesehatan dan usaha tingkatkan daya badan serta kesehatan pekerja. Menciptakan skema kerja atau proses kerja yang aman atau yang memiliki potensi resiko yang rendah pada terjadinya kecelakaan serta mengawasi asset perusahaan dari peluang terjadinya loss.

Nasution (1994:251) Program K3 adalah salah satunya usaha untuk melindungi pekerja di tempat kerja. Dengan terlindungnya pekerja dari was – was keselamatan serta kesehatan kerja diinginkan akan tingkatkan efisiensi perusahaan lewat penambahan produktivitas pekerja.

Memberi pertimbangan serta referensi untuk memastikan perform lingkungan kerja tehadap potensi munculnya penyakit, masalah kesehataan serta ketidaknyamanan dalam tempat kerja yang disebabkan terdapatnya health hazards.Diluar itu pun memberi ketenangan pada pekerja dalam usaha untuk masih mengawasi keselamatan kerja, hingga pekerja bisa kerja dengan optimal sebab tidak mempunyai ketakutan dalam lakukan semua aktifitasnya serta ini sangatlah memengaruhi kapasitas mereka.