Safety Hazard Report Pelaporan Bahaya di Tempat Kerja

safety hazard report pelaporan bahaya di tempat kerja

safety hazard report pelaporan bahaya di tempat kerja – Di sebagian besar Perusahaan, terkadang kecelakaan terjadi karena perihal kecil yg kerapkali kita anggap remeh akan tetapi pada akhirnya berakibat fatal. Misalnya, lantai licin, terdapat lubang di area pejalan kaki, kabel berantakan, tidak terdapatnya barikade dll. Semua potensi bahaya itu dapat di lihat serta dirasa oleh pekerja. Petugas K3, Anggota P2K3, atau supervisor pun sebenarnya tidak cukup untuk menyikapi bahaya itu. Oleh sebab itu, penting di setiap Perusahaan untuk memiliki sistem pelaporan potensi bahaya ditempat kerja yang bisa dilakukan oleh semuanya pekerja tanpa kecuali, termasuk di dalamnya kontraktor dan pengunjung, yg di kenal dalam bahasa inggris dengan Hazard Report.

Hazard Report atau dalam Bahasa Indonesia di kenal sebagai Pelaporan Bahaya ditempat kerja adalah “wadah/media” untuk pekerja untuk memberikan laporan bahaya yg mereka lihat, rasakan, dan dapatkan ditempat kerja yg berpotensi membuat kecelakaan dan penyakit disebabkan kerja.

Sebelum kita bicara perihal Hazard Report, Mari kita pahami lebih dahulu apa itu definisi bahaya.

Hazard atau bahaya memiliki definisi menjadi bahan benda zat atau sesuatu apa pun yg memiliki potensi untuk menyebabkan resiko, baik kecelakaan atau penyakit disebabkan kerja. Potensi yg membuat resiko dapat berwujud jumlah atau kuantitas yg banyak dari bahan zat atau benda itu, sifat fisik atau kimia, atau efek yg diakibatkan untuk seseorang.

Nah. cobalah bayangkan kalau bahaya atau hazard ini berada pada ruangan tempat kerja kita

Apa yg membuat pentingnya pelaporan bahaya ditempat kerja? Pelaporan bahaya ditempat kerja penting dilakukan dengan tujuan :

  • Menahan terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit disebabkan kerja
  • Menjadi evaluasi pengendalian ditempat kerja.
  • Untuk memahami tren bahaya dan resiko yg terjadi ditempat kerja.
  • Meningkatkan kesadaran pekerja akan bahaya dan resiko ditempat kerja.
  • Menjadi dasar untuk manajemen untuk membuat program dan kebijakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Untuk membuat hazard report dan pelaporan bahaya ditempat kerja berjalan dengan baik dan terbaik, diperlukan sistem dan sistem yg komprehensif jadi akar masalah dari terjadinya potensi bahaya dapat diatasi. Beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk membangun penerapan pelaporan bahaya ditempat kerja salah satunya :

1. Buat Prosedur dan Sistem Pelaporan Bahaya ditempat Kerja

Sistem pelaporan bahaya ditempat kerja dapat didiskusikan oleh Departemen HSE di masing-masing Perusahaan atau pada rapat P2K3 yg dilakukan setiap bulan dengan melibatkan perwakilan dari operator, middle staff, sampai top manajemen. Dengan cara sederhana sistem pelaporan bahaya ditempat kerja dapat berupa :

Pekerja melihat potensi bahaya – Jika dapat segera ditanggulangi, dapat segera ditanggulangi sendiri – Mengisi Form hazard report yg diperuntukan untuk penanggung jawab area – Administrator – Meneruskan ke penanggung jawab area – Penanggung jawab area menjawab pada isian form dan lekas menindaklanjuti

2. Tentukan Personil

  • Penanggung Jawab Area : Seharusnya diambil orang yang bisa jadi pembuat ketentuan di masing-masing departemen. Misalnya Manajer dari masing-masing departemen.
  • Administrator : Biasanya sebagai administrator untuk Hazard Report itu merupakan dari departemen K3/HSE, akan tetapi tidak menutup peluang staff lainnya yg diamanahkan untuk meneruskan temuan bahaya di lapangan dan merekap hazard report setiap bulannya.
  • Site Area Manager : Jika potensi bahaya ditempat kerja tidak bisa dikerjakan oleh penanggung jawab area, seperti perlunya biaya yg besar, maka diperlukan Site Area Manager yg bertanggungjawab akan keseluruhan ruangan ditempat kerja. Site Area manager itu biasanya merupakan Top Management.

3. Buat Formulir

Formulir dapat sesuai dengan kepentingan masing-masing Perusahaan. Alangkah lebih baik formulir berisikan :

  • Nama Pelapor
  • Uraian Bahaya yg diketemukan ditempat kerja, dapat ditambahkan dengan gambar
  • Catat Penanggung Jawab Area
  • Prioritas Action yang penting dilakukan (Tinggi/Sedang/Rendah)
  • Immediate Action yang penting dilakukan (di isi oleh Penanggung Jawab Area)
  • Pengamatan Akar Masalah (di isi oleh Penanggung Jawab Area)
  • Perbaikan dan Mencegah yg dilakukan agar di masa mendatang tidak terulang kembali (di isi oleh penanggung jawab area)
  • Buat meringankan administrator untuk tracking laporan bahaya apakah sudah diatasi atau belum, dapat menambahkan kolom close atau masih open. Artinya apakah perbuatan perbaikan atau mencegah udah dilakukan jadi hazard report dapat di-close.

4. Mengerjakan Sosialisasi dan Simulasi terhadap Pekerja

Setelah tools dan prosedur telah kita sediakan, kita wajib mengerjakan simulasi terhadap pekerja agar memahami beberapa langkah melaksanakan pelaporan bahaya ditempat kerja. Dapat melalui briefing pada pagi hari sebelum bekerja, rapat bulanan P2K3, dan event Safety lainnya.

5. Evaluasi

Evaluasi dapat dilakukan baik mengukur kefektifan Pelaporan bahaya ditempat kerja, atau tren potensi bahaya yg terjadi ditempat kerja. Dari hasil pelajari itu kita dapat mengukur tingkat partisipasi pekerja untuk melaporkan bahaya ditempat kerja. Beberapa Perusahaan juga jadikan pelaporan potensi bahaya ditempat kerja menjadi pelaporan nearmiss, meskipun dengan cara harfiah terdapat uraian yg berbeda pada potensi bahaya dan nearmiss. Evaluasi dapat dilakukan 1 bulan sekali pada meeting P2K3.

Dari total proses memang ada banyak masalah yg biasanya bakal didapati mengenai dengan Pelaporan Bahaya ditempat kerja. Beberapa masalah yg bakal muncul salah satunya :

  • Adanya konflik antar pekerja, karena mindset yg belum dewasa tentang fungsi dan tujuan dari pelaporan bahaya ditempat kerja. Terkadang pelaporan bahaya ditempat kerja dijadikan ajang “saling melaporkan”
  • Keengganan untuk memberikan laporan atasan yg tidak berperilaku aman. Hal tersebut acap kali terjadi karena pelaporan bahaya menuliskan nama pelapor. Permasalahan itu dapat diatasi dengan menganonimkan pelapor bila perlu atau pemberian safety leadership training terhadap semua tim leader, supervisor, manager, sampai top management.
  • Hazard report di anggap buang-buang waktu dan menambah pekerjaan. Sebagian orang berpikiran kalau dengan hazard report, pekerjaan mereka akan bertambah untuk pikirkan tindakan perbaikan apa yang penting dilakukan. Hal tersebut dapat diatasi dengan jadikan Tugas HSE jadi bagian dari aktivitas mereka sehari-hari (tertuang dalam job description).
  • Follow up yg lambat dari pelaporan bahaya ditempat kerja. Dapat dikerjakan dengan sistem reminder dengan cara berkala.
  • Minimnya partisipasi aktif dari pekerja untuk memberikan laporan bahaya ditempat kerjas. Hal tersebut dapat diakali dengan memberi penghargaan terhadap karyawan yg ikut serta aktif dalam pelaporan bahaya ditempat kerja dan menuangkannya pada tujuan individu KPI (Key Performance Indicator).