Apa itu Komunikasi Bahaya (Hazard Communication) Yang Efektif

Subscribe Youtube Channel!

komunikasi bahaya yang efektif

komunikasi bahaya yang efektif – Tiap-tiap kecelakaan kerja diakibatkan adanya paparan bahaya di ruang kerja yang kontak pada pekerja. Dengan keadaan ini berbagai usaha kita untuk mengidentifikasi, mengkomunikasikan serta mengatur potensi bahaya jadi sisi yang terpenting untuk mencegah serta mengurangi tingkat kecelakaan yang berlangsung.

Akan tetapi sebaik apa pun proses serta hasil identifikasi serta pengendalian dari potensi bahaya barusan akan tidak maksimal bila kita tidak dikomunikasikan dengan efisien. Tapi permasalahannya apa metoda komunikasi bahaya yang akan kita kerjakan telah sama dengan potensi bahaya yang ada, telah sesuai dengan tingkat pengetahuan serta kompetensi pekerja yang ada serta sesuai dengan tips atau standard nasional atau internasional yang telah dapat dibuktikan efisien untuk perihal ini?

Dalam pekerjaan keseharian kita tahu adanya pekerjaan training, induksi, safety talk atau tool box meeting, tanda/rambu K3 (safety signage), simbol bahaya di paket produk, Material Safety Data Sheet (MSDS). Nah, itu semua ialah contoh dari pekerjaan Hazard Communication.

Sebenarnya dalam perundang-undangan di Indonesia, yakni UU no. 1/1970, masalah 9 ayat 1 sudah mewajibkan jika jadi kewajiban pengusahan untuk mengkomunikasikan bahaya dalam tempat kerja pada pekerja. Komunikasi ini meliputi seperti berikut:

a. Beberapa kondisi serta bahaya-bahaya yang bisa muncul dalam tempat kerja;

b. Semua pengamanan serta alat-alat perlindungan yang diwajibkan dalam tempat kerja;

c. Alat-alat perlindungan diri untuk tenaga kerja yang berkaitan;

d. Beberapa cara serta sikap yang aman dalam melakukan tugasnya.

Lebih jauh di syaratkan dalam standard skema manajemen K3 (OHSAS 18001), pasal 4.4.2 tidak hanya apa yang diisyaratkan di UU no.1/1970, juga komunikasi ini meliputi awareness atau kesadaran dari pekerja pada kebijaksanaan K3 perusahaan serta konsekuensi bila tidak menjalankan mekanisme kerja yang ada termasuk apakah yang perlu dikerjakan dalam kondisi darurat.

Dari sini kita dapat memperoleh standard minimum dari komunikasi bahaya yang dikerjakan saat induksi K3 atau safety talk ialah apakah yang diisyaratkan di UU no. 1/1970 serta standar OHSAS tadi. Fakta yang penulis dapatkan dilapangan saat lakukan audit ke beberapa perusahaan ialah materi induksi atau safety talk tidak selamanya meliputi beberapa poin diatas.

Panduan agar materi komunikasi bahaya kita sama dengan potensi bahaya yang ada yaitu dengan mengacu pada hasil risk assessment (penilaian resiko) di mana didalamnya tercakup proses identifikasi beberapa potensi bahaya serta penilaian tingkat resikonya.

Setelah itu tentang metoda penyampaian harus benar-benar diakui potensi SDM dari pekerja kita mulai potensi baca serta bahasa yang dikuasainya. Contoh bila di perusahaan kita ada pekerja lokal dengan potensi berbahasa Indonesia serta pekerja asing dengan potensi berbahasa Inggris, jadi semua komunikasi bahaya yang berkaitan memakai 2 bahasa (bilingual).

Contoh simpel ialah MSDS untuk bahan kimia import biasanya berbahasa Inggris, jadi kita harus terjemahkan ke bahasa Indonesia atau kita buat ringkasannya dalam bahasa Indonesia untuk per masing-masing MSDS atau per tipe/group bahan kimia sesuai dengan sifatnya.

Demikian pula dengan rambu peringatan K3 (safety signage), kita pakai dua bahasa serta gambar/symbol yang ada semestinya mengacu ke standard atau tips yang terkenal hingga pemakai semakin lebih cepat mengerti pesan yang disampaikan. Tips untuk safety signage ini dapat merujuk ke standard ISO 3864-1:2002 serta ISO 7010:2003 atau tips yang lain yang dapat kita ambil dari internet.

Maka bila kita ingin tempat kerja kita ini aman/selamat dari kecelakaan, pastikan semua pekerja tahu dengan baik semua potensi bahaya yang ada dengan mengkomunikasikannya seefektif mungkin. Tetapi janganlah lupa pengendalian kemungkinan masih jadi prioritas penting. Be safe and healthy.