10 Langkah Rencana Pencegahan Kecelakaan Untuk Meningkatkan Keselamatan Kerja

langkah rencana pencegahan kecelakaan

langkah rencana pencegahan kecelakaan – Semua pemilik upaya yang ingin mengurangi cedera yang terkait dengan pekerjaan serta meningkatkan keselamatan kerja bisa mendapat keuntungan dari pelaksanaan gagasan ini. Gagasan ini adalah perencanaan yang bisa membantu pembaca masih berada pada rutinitas kerja yang aman serta Kamu terus-menerus mempraktekkan kebijakan keselamatan.

  1. Terlihat, Kepemimpinan yang aktif dari Manajemen Senior : Manajer Senior, termasuk juga eksekutif top ditempat kerja, harus mempraktekkan perilaku atau rutinitas keselamatan. Eksekutif senior bisa menunjukkan kepedulian serta dukungan mereka untuk keselamatan serta kesehatan dalam beragam langkah. Misalnya : otorisasi sumber daya untuk mencegah kecelakaan, partisipasi dalam pertemuan keselamatan, memo yang memberi arahan serta dukungan, jalan-jalan wisata bertujuan untuk mengidentifikasi bahaya atau praktek yang tidak aman, ulasan tahunan evaluasi program, presentasi video, memegang anggota bawahan yang bertanggungjawab untuk aktivitas pencegahan kecelakaan, dan lain-lain.
  2. Keterlibatan Karyawan serta Pengakuan : Baik manajemen serta karyawan harus berperan serta secara aktif dalam proses manajemen keselamatan serta kesehatan. Karyawan harus diberikan peluang untuk terlibat dalam program keselamatan, dalam pengambilan keputusan serta pemecahan permasalahan. Partisipasi dalam grup, komite, penyelidikan kecelakaan, audit keselamatan serta pelatihan melakukan keselamatan ialah contoh dari proses keterlibatan karyawan. Selain itu, program untuk mengidentifikasi serta secara resmi mengakui karyawan (dapat bentuk penghargaan) dalam keunggulan mengenai pencegahan kecelakaan harus dibuat. Kriteria yang disarankan mungkin saja termasuk juga karyawan yang kinerjanya tinggi dengan cara konsisten dalam keselamatan serta kesehatan, mereka yang merekomendasikan atau melakukan perbaikan keamanan, atau karyawan yang mengambil proyek-proyek keamanan khusus.
  3. Cacat Manajemen : Entrepreneur harus membuat manajemen kebijakan pasca-cedera atau cacat serta prosedur untuk membantu karyawan yang terluka atau sakit dalam proses rehabilitasi agar kembali bekerja secepat mungkin. Komponen prosedur pengelolaan penyandang cacat harus meliputi minimum : mendidik karyawan mengenai kebijakan kompensasi pekerja serta prosedur sebelum kecelakaan berlangsung ; membangun serta mengkomunikasikan prosedur untuk mendapat perawatan medis ; laporan kecelakaan/penyakit segera pada supervisor ; komunikasi pengawasan rutin dengan karyawan terluka yang sedang dalam waktu pengobatan ; menyelidiki semua kecelakaan segera untuk memastikan pemicu serta mengambil beberapa langkah perbaikan.
  4. Komunikasi Reguler : komunikasi Reguler pada beberapa hal yang memengaruhi keselamatan serta kesehatan karyawan harus disertakan dalam pendekatan secara keseluruhan setiap organisasi untuk mengelola keselamatan serta kesehatan. komunikasi rutin harus mencakup tertulis serta umpan balik verbal untuk seluruh karyawan pada kemampuan pencegahan kecelakaan serta di umpan balik kuartalan setidaknya untuk karyawan pada seberapa baik program keselamatan serta kesehatan berfungsi. Video, memo, papan buletin, rapat staf, serta pertemuan umum adalah cara komunikasi yang disarankan.
  5. Pemberitahuan Kecelakaan Berkala : Entrepreneur harus memberikan laporan kecelakaan pada Biro Kompensasi Pekerja, selama dibutuhkan. Contohnya, kasus kehilangan waktu harus dilaporkan dalam waktu tujuh hari setelah diberitahu kecelakaan oleh karyawan yang terluka atau sakit.
  6. Pengaturan Program Keselamatan serta Kesehatan : Seorang individu harus ditunjuk menjadi Koordinator Manajemen Resiko serta diberi tanggung jawab serta wewenang untuk mengkoordinasikan atau memfasilitasi keseluruhan pendekatan organisasi tentang keselamatan serta kesehatan untuk mencegah kecelakaan/penyakit. Tugas bisa meliputi identifikasi keperluan kerugian dalam pencegahan serta pelatihan keselamatan, membantu manajemen dalam proses program keselamatan, mengidentifikasi serta berkomunikasi berkaitan kriteria keselamatan serta kesehatan yang baru, gabungan kecelakaan atau catatan penyakit yang terkait, pencarian kemajuan proyek yang berkaitan dengan keselamatan, serta merekomendasikan tambahan praktik tentang langkah kerja yang aman. Entrepreneur (atasan) bisa memilih untuk mewakilkan fungsi-fungsi ini jadi lebih dari satu orang. Seorang atasan mungkin saja memandang atau mewakilkan pekerjaan itu untuk seorang manajer. Dalam kedua kasus, Koordinator Manajemen Resiko harus menghadiri setidaknya satu seminar/pelatihan tentang keselamatan serta kesehatan setiap tahun.
  7. Tujuan serta Pelatihan : Tergantung setiap organisasi untuk mengidentifikasi keperluan pelatihan khusus yang diperlukan karyawan serta untuk memastikan jika tujuan serta pelatihan itu diperlukan serta bisa diterapkan. Setiap pemilik usaha harus meningkatkan tujuan keselamatan serta program pelatihan serta mengidentifikasi keperluan pelatihan. Program ini akan terdiri dari dua komponen : komponen tujuan serta komponen pelatihan. Semuanya karyawan baru harus berperan serta dalam tujuan keselamatan. Tujuan akan, minimal, memberitahukan karyawan mengenai prosedur perawatan medis, bagaimanakah serta kapan memberikan laporan cedera/penyakit, pemakaian serta perawatan alat pelindung diri, tindakan yang perlu dikerjakan dalam kondisi darurat, langkah memberikan laporan praktek atau keadaan yang tidak aman, serta kembali pada prosedur kerja. Komponen pelatihan keselamatan harus meliputi praktik kerja yang aman untuk tugas-tugas tugas spesifik, pemakaian mesin serta perlengkapan, aspek resiko ergonomi, bahaya kimia, dan lain-lain. Semuanya dokumen pelatihan mesti meliputi tanggal, tema yang dibicarakan, nama instruktur, serta nama-nama karyawan yang menghadiri sesi pelatihan. Setiap karyawan menghadiri pelatihan harus di tandatangani formulir dokumentasi.
  8. Ditulis serta Komunikasikan Praktek Kerja Aman : Bimbingan untuk karyawan berbentuk praktek kerja yang aman terpenting untuk ditulis untuk memahami mengenai persyaratan pekerjaan serta prosedur. Praktek kerja umum yang aman serta tugas khusus harus diidentifikasi serta dipublikasikan. Praktek kerja umum yang aman termasuk juga : rumah tangga, alat pelindung diri, prosedur pertolongan pertama, pemakaian prinsip-prinsip ergonomis, perlindungan pernafasan, lockout/tagout, prosedur area terbatas, dan lain-lain. Praktik kerja pada tugas khusus yang aman berlaku untuk operasi serta tugas-tugas yang menyertakan bahaya serta resiko yang berkaitan dengan manfaat serta prosedur tugas khusus. Karyawan mesti diberikan salinan praktik kerja umum yang aman. Praktek kerja pada tugas khusus yang aman harus dipasang atau siap tersedia di ruang kerja. Semua karyawan mesti menunjukkan jika mereka mengerti serta akan ikuti praktek kerja yang aman dengan di tandatangani pernyataan.
  9. Menulis Kebijakan Keselamatan & Kesehatan : Penulisan kebijakan, yang di tandatangani oleh eksekutif puncak, harus di kembangkan yang mengekspresikan nilai-nilai serta prinsip pada keselamatan kerja serta kesehatan organisasi. Harus mengidentifikasi manajemen, pengawas serta tanggung jawab karyawan. Kebijakan ini juga harus menuliskan mengenai kembalinya karyawan yang terluka atau sakit untuk bekerja di kesempatan pertama. Kebijakan itu ditulis harus didistribusikan pada seluruh karyawan ketika kerja serta melakukan penjelasan dengan mereka setiap tahun.
  10. Pencatatan serta Analisa Data : Organisasi harus mengkompilasi kecelakaan kerja serta info berkaitan penyakit untuk mencari tren serta penyebab. umpan balik yang tepat waktu pada pemicu kecelakaan serta trend untuk manajer serta supervisor adalah aspek terpenting untuk mengidentifikasi pemicu, serta pencarian perbaikan. Memberi laporan status info klaim untuk supervisor penting juga untuk membantu mereka masih terkait dengan status karyawan yang tidak bekerja serta untuk membantu kembalinya karyawan untuk bekerja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here