Pedoman Keselamatan akan Bahaya Listrik di Laboratorium

Subscribe Youtube Channel!

pedoman keselamatan akan bahaya listrik

pedoman keselamatan akan bahaya listrik – Sebagaimana di tempat-tempat lain, berkaitan dengan pengetahuan akan potensi-potensi bahaya dan tindakan-tindakan pencegahannya. Tindakan-tindakan pencegahan di laboratorium listrik/komputer merupakan hal yang penting karena potensi-potensi bahaya yang ada di dalamnya.

Jika 0,1 Ampereatau lebih arus listrik mengalir melalui kepala atau dada bagian atas, risiko kematian hampir pasti, dan terbukti fatal pada penderita gangguan koroner. Arus listrik yang mengalir melalui tubuh dipengaruhi oleh resistansi tubuh, resistansi antara tubuh dengan lantai, dan tegangan sumber. Jika kulit basah, maka jantung akan lemah dan kontak antara tubuh dengan lantai menjadi besar dan langsung, sehingga tegangan sebesar 40 Volt dapat berisiko fatal.

Oleh karena itu, hindari mengambil risiko dengan tegangan “rendah” sekalipun. Ketika bekerja di laboratorium, luka-luka seperti luka bakar, patah tulang, terkilir, atau gangguan pada mata, dapat terjadi. Tindakan pencegahan harus dilakukan untuk menghindari terjadinya luka-luka tersebut termasuk risiko akibat sengatan listrik.

Pengguna laboratorium perlu memiliki nomor telepon darurat yang dapat dihubungi untuk pengarahan jika diperlukan. Apabila muncul pertanyaan-pertanyaan mengenai keselamatan, konsultasikan dengan dengan demonstran ataupun teknisi laboratorium. Mengetahui tindakan-tindakan pencegahan yang tepat merupakan hal yang penting ketika bekerja di laboratorium untuk menghindari risiko bahaya pada diri sendiri maupun orang lain. Bahaya paling umum adalah sengatan listrik yang dapat berakibat fatal apabila tidak berhati-hati.

Pengguna laboratorium perlu mengetahui lokasi dari perangkat-perangkat keselamatan yang ada di dalam lab:
a. Alat pemadam api
b. Kotak P3K
c. Telepon dan nomor-nomor darurat

Sengatan Listrik

Sengatan listrik disebabkan karena aliran arus listrik melalui tubuh. Tingkat keparahannya bergantung pada besarnya arus. Sengatan listrik sebesar 1mA biasanya menyebabkan rasa kesemutan/geli yang tidak nyaman.  engatan arus listrik di atas 10mA dapat menyebabkan nyeri otot yang cukup parah sehingga korban kesulitan melepaskan konduktor akibat kejang otot. Arus diantara 100mA dan 200mA (50 Hz AC) dapat menyebabkan fibrilasi ventrikel pada jantung sehingga berisiko kematian. Besarnya tegangan yang menghasilkan arus berisiko fatal bergantung pada resistansi dari kulit. Kulit yang basah dapat memiliki resistansi setidak ya 150Ω dan kulit yang kering 15kΩ. Nilai resistansi tangan dan kaki diperkirakan sebesar 100Ω dan tubuh 200Ω.

Dari nilai-nilai resistansi tersebut,diperkirakan bahwa tegangan 240Volt dapat menyebabkan arus listrik sekitar 500mA mengalir melalui tubuh dengan kondisi kulit basah, sehingga dapat berisiko fatal. Disamping itu nilai resistansi dari kulit juga menurun dengan drastis pada bagian yang terkena kontak langsung dengan konduktor.
Dengan demikian sangat penting sekali untuk segera memisahkan konduktor dengan bagian tubuh yang terkena kontak, untuk mencegah arus meningkat sampai pada level yang dapat mematikan.

Grounding Peralatan

Grounding merupakan hal yang sangat penting. Grounding yang tidak tepat, dapat menyebabkan eror, bising, dan banyak masalah lainnya. Grounding pada peralatan listrik dapat mencegah terjadinya sengatan listrik. Instrumen dan peralatan listrikmemiliki casing yang secara elektrik sudah di insulasi  dari kabel-kabel yang mengalirkan arus listrik. Isolasi tersebut dilakukan dengan cara insulasi pada kabel-kabel listrik sebagaimana dilihatkan pada gambar di bawah.

Namun demikian, apabila insulasi pada kabel cacat/terkelupas dan terjadi kontak langsung antara bagian tersebut dengan casing, maka casing akan berada pada kondisi bertegangan tinggi. Jika pengguna menyentuh alat, maka tegangan tinggi tersebut akan terasa. Jika pengguna sedang berdiri di atas lantai basah dan bersentuhan dengan
casing tersebut, maka arus yang cukup besar akan mengalir melaluinya sebagaimana diperlihatkan pada gambar b. Tapi apabila casingdihubungkan ke tanah (ground) dengan menggunakan kabel ketiga (kabel ground), maka arus dari casing akan mengalir langsung ke tanah tanpa melalui pengguna alat.

Peralatan dengan kabel tiga sumbu lebih aman digunakan. Kabel ketiga yang terhubung ke casing, juga terhubung ke tanah (biasanya melalui pipa atau batangan besi di dalam tanah) melalui stopkontak di dinding.

Selalu perhatikan tindakan-tindakan pencegahan berikut ketika bekerja di laboratorium:

  1. Jangan bekerja sendirian jika bekerja dengan peralatan listrik yang bertegangan tinggi, peralatan yang menyimpan energi listrik, atau mesin-mesin yang dioperasikan dengan listrik seperti mesin bor.
  2. Ketika merakit, membongkar, atau memodifikasi eksperimen atau proyek, aliran listrik harus diputus dari peralatan. Hubungkan titik-titik dengan tegangan tinggi ke tanah (grounding) dengan penghubung yang terinsulasi dengan baik. Ingat! Kapasitor dapat menyimpan energi dengan kuantitas yang membahayakan.
  3. Lakukan pengukuran pada sirkuit aktif atau kapasitor dengan menggunakan alat ukur yang pegangannya terinsulasi dengan baik, serta menjaga salah satu tangan tetap di belakang tubuh atau di dalam saku. Jangan biarkan terjadi kontak antara bagian tubuh manapun baik dengan bagian manapun pada sirkuit maupun peralatan yang terhubung ke sirkuit.
  4. Setelah memutus aliran listrik, kosongkan isi kapasitor-kapasitor yang ada di sirkuit. Jangan langsung yakin dengan kapasitor-kapasitor yang seharusnya dalam kondisi kosong. Beberapa jenis kapasitor dapat menyimpan energi residu walaupun telah dikosongkan. Gunakan sejenis konduktor penghubungpada kapasitor, dan jaga agar tetap terhubung sampai alat siap digunakan kembali. Jika menggunakan kapasitor elektrolit, jangan:
    • Menggunakan tegangan berlebih
    • Menggunakan arus AC
    • Menghubungkan dengan keadaan polaritas yang terbalik
  5. Berhati-hatilahdalam menggunakan peralatan yang dapat menyebabkan arus pendek jika terhubung dengan elemen-elemen sirkuit yang lain. Gunakan hanya peralatan yang memiliki pegangan dengan insulasi yang baik.
  6. Jika terjadi kontak antara seseorang dengan listrik tegangan tinggi segera matikan sumber listrik. Jangan mencoba untuk menarik orang tersebut kecuali jika kita dalam keadaan terinsulasi. Jika korban tidak bernafas, segera beri CPR (bantuan pernafasan) secepatnya sampai korban tersadar, dan segera hubungi pihak rumah sakit.
  7. Periksa spesifikasi kabel jika menggunakan arus tinggi. Pastikan timah yang digunakan dapat digunakan untuk tegangan tinggi. Demikian juga untuk timah-timah pada instrumen.
  8. Hindari menyentuh secara bersamaan logam selubung (casing) sirkuit serta pipa-pipa di laboratorium yang terhubung ke tanah (seperti pipa air).
  9. Pastikan instrumen-instrumen di laboratorium telah di grounding, jangan menyentuh maupun menggunakan peralatan-peralatan listrik yang basah, lembab, atau tidak ada grounding.
  10. Jangan pernah menyentuh peralatan listrik jika sedang berdiri di atas lantai basah atau lantai logam.
  11. Memakai cincin atau jam tangan di laboratorium listrik dapat membahayakan, karena bendabenda tersebut  dapat bertindak sebagai elektrode pada tubuh manusia.
  12. Jika bekerja dengan mesin-mesin berputar, masukkan dasi dan kalung ke dalam baju, atau akan lebih baik jika dilepas.
  13. Jangan membuka sirkuit motor DC karena pada kecepatan tinggi dapat menyebabkan ledakan mekanik.
  14. Jauhkan mata dari arcingpoint. Lampu arc dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan gangguan mata yang serius. Siraman tembaga cair dapat menyebabkan luka mata permanen.
  15. Jangan pernah mengoperasikan circuitbreaker berwarna hitam pada panel sirkuit utama maupun cabang.
  16. Dalam keadaan darurat seluruh aliran listrik dalam laboratorium dapat dipadamkan dengan melepas (depressing) tombol merah besar pada panel breaker utama. Ketahui posisinya! Hanya digunakan untuk keadaan darurat.
  17. Kursi dan bangku harus diletakkan/dimasukkan di bawah meja ketika tidak digunakan. Duduklah dengan tegak di kursi atau bangku. Berhati-hatilah dengan lantai yang basah.
  18. Permainan permainan fisik, berlari-lari, atau gurauan-gurauan fisik tidak boleh dilakukan di laboratorium.
  19. Jangan pernah menggunakan air untuk memadamkan kebakaran akibat listrik. Jika mungkin matikan sumber listrik, kemudian gunakan CO2 atau pemadam api jenis kering. Ketahui posisi pemadam api, dan baca petunjuk penggunaannya.
  20. Jangan pernah menyentuh satu pun kabel-kabel pada sirkuit.
  21. Hindari permukaan yang mendisipasikan panas pada resistor-resistor dengan watt tinggi, karena dapat menyebabkan luka yang parah.
  22. Jaga kebersihan mesin-mesin yang berputar.  Langkah-langkah pencegahan sebelum memulai eksperimen agar waktu yang dialokasikan efektif:
    a. Sebelum melakukan eksperimen bacalah bahan-bahan yang terkait sebagai persiapan untuk menjawab kuis sebelum eksperimen dan untuk penghitungan hasil eksperimen.
    b. Pastikan bahwa perangkat eksperimen yang akan digunakan dalam kondisi baik. Mintalah bantuan dari teknisi atau demonstran laboratorium apabila ada permasalahan.
  • Powersupply bekerja dengan benar ketika lampu (LED) indikator Imax (arus maksimum) nonaktif. Arus maksimum akan menghambat pergerakan dial dan dapat menyebabkan kerusakan pada alat. Dua faktor yang dapat menyalakan LED indikator adalah short sirkuit dan suplai arus yang tidak cukup dari peralatan. Untuk memantau dan menjaga suplai power konstan, peralatan harus terhubung dengan sirkuit selama pengukuran tegangan. DMM (Digital Multimeter) jangan digunakan bersamaan dengan osiloskop untuk menghindari hasil yang salah
  • DMM yang baterainya sudah lemah jangan digunakan. Dengan pemasangan yang tepat, periksa kondisi sekring-sekring (penting pada pengukuran arus). Bandingkan penggunaan DMM pada berbagai jenis pengukuran lainnya. Verifikasi hasil-hasil pengukuran yang diperoleh dengan nilai-nilai teoritis yang telah dihitung.
  • Perlu memahami fungsi dari generator sinyal tegangan. Pastikan frekuensi yang diinginkan muncul dengan menekan tombol multiplier yang tepat. Pengaturan yang tidak tepat (seperti tombol yang ditekan tidak diset pada nilai minimum) dapat menyebabkan nilai yang salah sehingga hasil perhitungan tidak benar.
  • Pastikan osiloskop analog maupun digital terkalibrasi dengan baik.

c. Mahasiswa harus yakin bahwa nilai pengukuran yang diperoleh dari komponen-komponen diskrit (seperti resistor, kapasitor, dan induktor) sesuai dengan yang diinginkan.
d. Pengecekan secara berkala pada konektor atau kabel dengan menggunakan DMM harus dilakukan sebelum melakukan eksperimen. Minimalkan penggunaan kabel untuk menghindari kesalahan.
e. Memalsukan hasil pengukuran agar sesuai dengan nilai perhitungan secara teori merupakan tindakan yang tidak etis.