Penerapan Kesehatan dan Keselamatan Kerja pada Industri Sepatu

penyakit akibat kerja di pabrik sepatu

Aspek yang memengaruhi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Widian, 2011).

1. Beban kerja

Setiap pekerjaan adalah beban untuk pelakunya. Beban itu dapat berupa beban fisik, mental dan sosial. Seorang tenaga kerja memiliki kemampuan tersendiri dalam hubungan dengan beban kerja. Di antara mereka mungkin lebih cocok untuk beban fisik atau mental atau sosial.

2. Beban tambahan dan lingkungan kerja

Suatu pekerjaan biasanya dilakukan dalam suatu lingkungan yang menyebabkan beban tambahan pada jasmani dan rohani tenaga kerja. Terdapat 5 fisik penyebab beban tambahab ditempat kerja :

1. fisik : penerangan, suhu, kelembaban

2. kimia : gas, uap, debu

3. biologi : golongan tumbuhan dan hewan

4. fisiologi : konstruksi mesin, sikap dan cara kerja

5. psikologi : suasana kerja, hubungan antar pekerja

6. Kapasitas kerja

Kinerja seseorang berbeda-beda satu dengan yang lainnya dan sangat tergantung pada keterampilan, keserasian, kondisi gizi, jenis kelamin dan ukuran tubuh.

2. Aspek lingkungan kerja

Aspek lingkungan kerja dapat diklasifikasikan jadi 4 yakni ;

a. Lingkungan Fisik
Lingkungan fisik (physical environment) yang ada di sekitar kita sangat bermakna untuk kehidupan kita. Kondisi sekitar lingkungan secara terus-menerus memberi pemaparan pada kita, bila lingkungan sesuai dengan kebutuhan aktivitas manusia, maka dia akan mendorong untuk kondisi yang baik, apabila kondisi lingkungan tidak cocok dengan kebutuhan atau melampaui ambang batas toleransi sangat berpengaruh negatif untuk kesehatan biologis dan kesehatan mental.

Lingkungan fisik yang ada di sekitar kita dapat menyebabkan pada sebagian tekanan psikologis dan/atau menyebabkan pada kecelakaan, yg tidak menguntungkan untuk kondisi kesehatan mental. Banyak ditemui kalau agresivitas, stress, tekanan mental, dsb jadi bertambah bila kondisi fisik itu terjadi diatas batas ambang toleransi.

Lingkungan fisik yang perlu memperoleh perhatian karena sangat memengaruhi kesehatan mental, salah satunya :

1. Tata Ruang dan Teritori

Kita semua memerlukan ruang untuk memenuhi seluruh keperluan, baik yang berhubungan dengan diri sendiri ataupun dalam berhubungan dengan orang lain. Tata ruang yang kita tempati dan miliki perlu memberi jaminan keamanan, kenyamanan, dan keleluasaan untuk seluruh aktivitas kita. Tata ruang yg tidak kondusif juga akan menyulitkan dalam mengatur diri, hubungan sosial, kerja, dan sekaligus berpotensi jadi hazard. Karenanya rekayasa pada lingkungan selalu diperlukan hingga sesuai dengan keperluan aktivitas manusia.

Hal yang berkaitan dengan tata ruang yaitu masalah teritori. Setiap orang memiliki teritori, walau dengan subyektif ada perbedaan luas tidaknya teritori pada setiap individu, luas tidaknya sangat di pengaruhi oleh kultur dimana dia di besarkan dan belajar. Dalam masyarakat yang dianggap tidak agresif dan mementingkan kecocokan hubungan sosial pun di ketahui memiliki wilayah teritori ini. Riset pada masyarakat primitif menunjukkan kalau mereka juga memiliki teritori.

Teritori dimiliki seseorang untuk melindungi egonya. Orang yang teritorinya terganggu, ego jadi tidak aman dan dia akan berupaya untuk menjaga diri sesuai dengan cara yang bisa dilakukan, misalnya dengan marah, penyerangan, atau beberapa cara lain yang dikira lebih aman. Teritori terkait dengan kepadatan, walau tidak selamanya kepadatan itu mengganggu teritorinya, bergantung pada kondisi yang terjadi dan persepsi pribadi pada wilayah teritorinya dapat mengancam kenyamanan dan keamanan dirinya.

Kepadatan internal yakni kepadatan dalam ruang tertentu. Sedang kepadatan eksternal yakni kepadatan di lokasi tertentu, berkaitan dengan teritori ini. Makin padat jumlah populasi dalam suatu atau wilayah tertentu akan mengganggu teritori yang diakui oleh setiap anggota masyarakatnya.

2. Penyinaran dan Udara

Kegiatan manusia memerlukan penyinaran dan udara yang ideal. Beragam jenis tipe penyinaran, ada yg tidak terang, cukup, atau menyilaukan. Bila penyinaran tidak sesuai keperluan aktivitasnya, maka akan membuat banyak kesalahan kerja, dan penyinaran yang terlalu silau membuat gangguan konsentrasi.

Demikian halnya dengan temperatur udara yang di terima manusia harus sesuai dengan kewajaran kemampuan pengindraan. Udara yang terlalu dingin atau panas tidak menguntungkan untuk manusia. Sering temperatur yg tidak enak membuat jenuh misalnya dalam bekerja, belajar atau aktivitas lainnya. Hal semacam ini jadi sumber stres untuk manusia.

3. Kebisingan dan Polusi

Kehidupan modern terlebih di perkotaan memperlihatkan tingginya kebisingan dan polusi. Kepadatan masyarakat, industrialisasi, dan peningkatan pemakaian kendaraan bermotor sudah membuat lingkungan jadi sangat bising dan penuh polusi. Kebisingan bisa juga memengaruhi perilaku manusia, pemaparan suara keras dengan terus-menerus dapat memengaruhi tingkat penangkapan indra pendengaran pada kebisingan. Berarti tidak menganggap suatu yang keras jadi suatu hal yang bising tapi secara fisiologis sudah terjadi perubahan kepekaan menangkap suara, karena tidak mampu lagi menerima suara yang kurang keras.

Kebisingan yang sangat tinggi memengaruhi penyesuaian individu pada aktivitasnya, dalam sebuah riset didapati kalau kebisingan tidak memengaruhi kecepatan kerja, tapi mutunya dapat menurun. Kebisingan itu secara langsung dapat mengurangi konsentrasi dan kerapkali menyebabkan tekanan. Demikian pula dengan polusi. Karena aktivitas manusia yang sangat menonjol saat ini yaitu transportasi dan indistri, maka lingkungan perkotaan yang banyak menghasilkan polusi. Polusi yang di keluarkan dapat berupa partikel, karbon monoksida, gas, dan limbah cair lain yang sekaligus jadi pencemar udara dan lingkungan. Pulosi berbentuk apa pun tidak mudah untuk dikendalikan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here