Ruangan kantor pun Bisa Beresiko Untuk Pekerja

Tanpa ada punya maksud jadi phobia, pasti kebanyakan orang harus tetaplah mengerti resiko yang mungkin muncul saat bekerja, termasuk juga untuk karyawan yang bekerja didalam ruangan kantor.

Walau cuma duduk sepanjang hari didalam ruangan, potensi bahaya tetaplah ada. Oleh karena itu, sosialisasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) semestinya tetaplah diberi pada karyawan yang bekerja dalam ruangan kantor.

Sekian waktu lalu, ECC UGM membuat poling tentang sejauh mana karyawan yang bekerja di kantor memperoleh arahan sekitar K3 di tempat kerja. Akhirnya, sejumlah 55% responden menyebutkan sempat memperoleh sosialisasi K3 dari perusahaan. Sejumlah 36% bekasnya tidak memperoleh sosialisasi K3 dari perusahaan. Sesaat, beberapa 9% menyebutkan tidak paham.

Indah Suryaningtyas, karyawan satu perusahaan asuransi, mengakui belum juga sempat memperoleh sosialisasi K3 sepanjang 4 bulan bekerja. “Kalau didalam kantor sich menurutku aman. Sampai kini juga tak ada kecelakaan kerja yang fatal. Namun saya mengharapkan tetaplah ada sosialisasi dari kantor, ” tutur Indah. Walau mengaku aman, Indah sebetulnya juga mengerti resiko yang mungkin muncul, umpamanya dari radiasi monitor komputer atau tangga yang licin.

Berlainan dengan Indah, Ni Made Puji Andari yang bekerja di satu bank swasta, begitu mengerti K3 karena sosialisasi dari tempatnya bekerja. “Ada sosialisasi K3 dari kantor. Ada simulasi juga untuk menyelamatkan diri, memakai alat pemadam kebakaran, dan ikuti arahan evakuasi, ” jelas Puji, sapaan akrabnya.

Puji menjelaskan, simulasi ditempat kerjanya dikerjakan 3x dalam setahun sesudah usai bekerja. Umumnya, Puji dan beberapa rekanan kerjanya dilatih untuk menyelamatkan slip-slip nasabah dan catatan keuangan terlebih dulu saat menjumpai keadaan bahaya.

Perlunya Keselamatan dan Kesehatan

Keselamatan dan kesehatan tidak dapat ditawar sekali lagi untuk produktivitas kerja, begitu juga untuk karyawan yang bekerja didalam kantor. Di sinilah perlunya kehadiran safety officer yang bertanggungjawab menakar resiko dan memberi jalan keluar atas persoalan K3, seperti yang dikerjakan oleh Arina Alfi Fauzia, Safety Officer PT Manfaat Teguh Kekal.

Arina menerangkan, pekerjaan safety officer mencakup pemilihan jam kerja aman untuk karyawan, mengecek keadaan site, sampai pengawasan perlengkapan kerja dengan kontinyu tiap-tiap bulan. “Kita juga selenggarakan simulasi satu tahun sekali. Kita keadaankan ada kondisi yang darurat dan butuh evakuasi, lantas kita saksikan apakah beberapa karyawan aware atau tidak dengan bahaya, ” jelas Arina.

Menurut Arina, baik bekerja didalam ataupun diluar kantor, resiko akan tetaplah ada. Sinyal tanda peringatan dan sarana keselamatan semestinya tetaplah dipasang didalam ruangan, seperti emergency exit, alat pemadam kebakaran, panel-panel tanda bahaya, dsb.

Hal seirama disibakkan oleh Dr. Ir. Widodo Hariyono, A. Md. , M. Kes. , staf pengajar Prodi S2 Kesehatan Kerja, Fakultas Kedokteran UGM sekalian occupational safety and health consultant. “Semua orang bekerja tentu ada resikonya. Walau bekerja didalam ruangan kantor, mungkin kecelakaan atau sakit. Dalam arti K3 dimaksud kecelakaan atau sakit karena kerja, ” tutur Widodo.

Kebanyakan orang bekerja tentu ada resikonya. Walau bekerja didalam ruangan kantor, mungkin kecelakaan atau sakit _Widodo Hariyono

K3 di Kantor

Selanjutnya, Widodo menjelaskan kalau resiko bekerja didalam kantor memanglah lebih kecil dan umumnya diakibatkan oleh perlengkapan spesifik. Penyebabnya kecelakaan kerja sendiri mencakup alat, mesin, bahan baku, sarana, dan bangunan. Sedang penyebabnya sakit karena kerja didalam kantor mencakup beberapa aspek :

  1. Fisika (pencahayaan, suhu, kelembapan, kebisingan, getaran mekanis, debu, tata letak, dan lain-lain)
  2. Biologi (mikroorganisme, serangga, binatang yang lain)
  3. Kimia (semua bahan kimia yang dipakai oleh manusia, berbentuk padat, cair, ataupun gas)
  4. Ergonomi (performansi fisik dan psikis pada pekerjaan yang dikerjakan)

Widodo juga menerangkan tentang sick building syndrome yang diakibatkan oleh perlengkapan dan sarana moderen di gedung-gedung elegan, umpamanya furniture yang berpelitur atau serbuk karpet yang dapat mengganggu pernapasan.

Usaha yang bisa dikerjakan supaya K3 karyawan tetaplah terjamin yaitu dengan pilih bahan baku, product, atau sarana yang bebas dari dampak pada penggunanya. “Crosscheck ke produsen, pikirkan hasil penelitian, dan standarisasi satu product, ” terang Widodo.

Nah, walau Kamu bekerja didalam kantor, jangan sampai terlena. Tetaplah senantiasa waspada. Selamat bekerja!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here