Safety Story : Tragedi Bertelanjang Kaki di Area Kerja

Telah nyaris sepeminuman teh dia coba mencapai bungkus rokok yang terjatuh itu. Tangannya berulang-kali dijulurkan sekuat mungkin saja. Gagal. Jangankan tangan, ujung jari telunjuknya saja bahkan juga tidak hingga menyentuh bungkus rokok berwarna merah hitam itu.

Kotak diisi 5 batang rokok itu jatuh pas diatas tanah. Dari tanah ke teras tempat tinggal tingginya memanglah tidak seberapa. Cuma sekitaran dua puluh sentimeter. Tetapi, dalam keadaannya saat ini, lakukan pergerakan berlebihan di ketinggian sesuai sama itu telah cukup untuk dapat membuatnya terpuruk. Tanpa ada perlawanan bermakna.

Sesungguhnya, dia telah menyerah untuk mencapainya. Dia juga telah coba minta pertolongan lewat cara menyebut istrinya. Namun, istrinya tidak kunjung datang. Mungkin saja ia tengah repot memasak di dapur. Atau, tengah membersihkan. Atau, bisa juga sedang merongrong tukang sayur, menyingsingkan lengan pakaian untuk menawar harga sayuran sampai level paling rendah. Tak tahu. Cuma istrinya serta Tuhan yang tahu.

Dia juga sudah berusaha memanggil anak semata wayangnya. Nihil. Entah ke mana anak itu. Padahal beberapa waktu sebelumnya, dia melihat anaknya ada di ruang tamu. Tengah menunduk sambil memencet-mencet layar gawai.

Mulutnya kian terasa masam, ingin segera mengisap rokok terkutuk yang entah kenapa tiba-tiba terjatuh. Lama-lama, dia jadi merutuki kakinya sendiri. Kalau tidak ada kejadian sialan itu, dia mungkin tidak akan berakhir di kursi roda seperti ini.

Sudah lebih dari tiga hari, langit tampak seperti habis dipel. Bersih. Tak bercela. Satu dua helai awan memang menggantung di tepian cakrawala. Tipis saja. Tidak sampai menyurutkan langkah matahari untuk menampilkan kegagahan diri.

Hari-hari yang panas terik ini memengaruhi Imran, seorang pekerja konstruksi bangunanyang baru melakoni kariernya belum lama ini. Kala itu, baginya semua Alat Pelindung Diri yang dikenakan terasa hanya membikin lebih gerah saja. Juga membebani. Terutama, sepatu safety. Sepatu itu terasa lebih banyak menghambat kinerjanya. Jalan jadi lebih berat, gerakan jadi kurang gesit, dan lain sebagainya.

Tanpa pikir panjang, Imran mulai melepas sepatu itu satu persatu—persis seperti dua hari sebelumnya. Tanpa beban. Tanpa merasa ketakutan.

“Ah, kemarin-kemarin juga dilepas dan enggak kenapa-kenapa,” pikirnya dalam hati.

Seorang rekan kerja yang melihat hal itu berusaha menegur Imran. Dia memperingatkan bahwa Imran bisa kena semprot Safety Officer kalau terlihat tidak memakai APD lengkap. Tapi, Imran tidak mengindahkannya.

“Santai aja, Bro. Aman, kok” tukas Imran.

“Aman-aman gundulmu! Nanti kalau ada orang HSE yang lihat gimana?” tanya si rekan kerja.

“Bisa diatur!” jawab Imran sambil menyeringai. Si rekan kerja hanya bisa mengangkat bahu dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

Alhasil, Imran melenggang dengan bertelanjang kaki. Tak dihiraukannya berbagai benda tajam yang bisa melukai kaki, entah itu serpihan kayu, kaca, paku, hingga potongan besi yang bertebaran di sana-sini.

“Nah, kan. Kalau sudah dibuka begini, berjalan juga rasanya jadi lebih cepat. Dan kalau tetap hati-hati saat berjalan, kaki akan tetap aman,” bisiknya pada diri sendiri.

Beberapa jam berselang, kesialan datang. Seorang Safety Officer bernama Ewink mengecek area kerja konstruksi tersebut. Seperti diduga, Ewink terkejut melihat atraksi Imran dalam menentang potensi bahaya yang setiap saat bisa saja melumat kakinya. Tanpa berlama-lama, Ewink memanggil Imran dan menegurnya. Imran pun berjalan menghampiri sang Safety Officer dengan hati tak keruan.

“Lho, Mas. Kenapa enggak dipakai itu sepatu safety-nya?” tanya Ewink sambil menuding ke arah kaki Imran. “Sambil ngerokok pula,” tambahnya.

Imran menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal sambil memikirkan cara untuk menjawab pertanyaan si Safety Officer. Haduh… mati! Harus jawab apa ini?

“Emmm … anu, Pak. Tadi kaki saya agak bengkak. Mungkin rematiknya kambuh. Jadi, enggak enak kalau pakai sepatu,” jawab Imran asal saja.

“Tapi, ini kan area kerja yang berbahaya, Mas. Nanti kalau celaka gimana?” sergah si Safety Officer.

“Iya, Pak” jawab Imran singkat saja sambil membuang puntung rokok ke sembarang arah.

Untung menerpa Imran. Di saat bersamaan, rekan kerjanya memberi tahu bahwa dia dipanggil Mandor Proyek. Tentu saja, momen berharga untuk mengakhiri kecanggungannya akibat ditegur si Safety Officer ini tak disia-siakan begitu saja. Dia lekas meminta izin pada Safety Officer yang masih tampak kesal itu untuk segera menghadap Mandor Proyek.

Percakapan antara dirinya dengan Safety Officer itu pun diakhiri dengan sikap tegas Ewink agar Imran kembali memakai sepatu safety-nya. Apapun yang terjadi.

“Pokoknya, saya minta Anda nanti pakai lagi sepatu safety-nya!” tandas Ewink.

“Siap, Pak!” jawab Imran.

Dia pun berlalu meninggalkan Ewink dan mendatangi Mandor Proyek sambil menenteng sepatu safety. Di sana, Imran diminta untuk menggantikan pekerjaan rekannya yang sempat tertunda gara-gara sakit. Pekerjaan yang dimaksud adalah membersihkan dinding alias scraping.

Tanpa melakukan pengecekan berarti pada perancah maupun area sekitarnya, Imran mulai naik dan bergegas melakukan pekerjaan pembersihan dinding. Niatnya untuk segera memakai sepatu safety lagi urung dilakukan. Pasalnya, dia berencana akan memakainya kembali setelah pekerjaan scraping ini beres. “Tanggung,” pikirnya.

“Kecelakaan kerja itu nyata. Sikap kerja yang jelek membuatnya terwujud, ” cuplikan ini sangkanya pas untuk melukiskan peristiwa yang menerpa Imran sekian waktu lalu.

Waktu itu, saat bersihkan dinding, Imran mengerjakannya lewat cara mundur dari satu bagian tembok ke bagian yang lain. Karna bergerak mundur, dia tidak mengerti kalau perancah yang diinjaknya telah menjangkau ujung.

“Bruuukkk! ”. Imran jatuh saat itu juga. Kakinya yg tidak dilindungi dengan sepatu safety itu menghantam kerangka besi yang mempunyai sisi runcing yang mencuat di sebagian bagian. Bilah-bilah besi juga tertancap disana. Pas di telapak kakinya.

Erangan Imran pecah. Erangan yg tidak berbuah apa-apa terkecuali sebundel penyesalan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here